BLOG DIALIHKAN!!!
4 November 2009 at 18:57 | In Uncategorized | Leave a CommentPERHATIAN… mohon maaf sekali lagi, bagi yang udah baca, saia minta maap… blog ini mulai rada ngeror… seharusnya spring breeze part 5 dah saia terbitin kmren tpi kaga masuk ke blog and semua draft yg saia simpen dulu tiba-tiba menghilang… Kami ga tau ini karena internet browser saia ato emang blognya yg eror, tp untuk mengantisipasi gangguan yg lebih, blog ini terpaksa saia alihkan ke orewasleepyuta.blogspot.com… sekali lagi mohon maaf dan tolong dimengerti…
IKU – Ko no Me Kaze lyrics
2 November 2009 at 20:01 | In Music | Leave a CommentTags: hayate no gotoku, IKU, japanese, lyrics, Music
Yo minna… ini lagu favorit gue, Hayate no Gotoku ED 4, Iku, Ko no Me Kaze. Lagunya sweet and slow, easy listening. Kalo yang udah tau, silahkan menikmati.. tapi kalo yang nggak tau juga bisa donlot disini..
Namae yonde boku ni todoku you ni
Hibiku koe wa kaze o okosu kara
Sono te nobashite tsunagou egao ni naru kara
Saa ikou bokura wa ima o mitsumete
Aruki hajimeru
Isogi ashi de tatta hitori
Sora no iro sae kidzukazu ni
Hitasura aruiteta
Aisaretai Fureraretetai
Motomeru bakari no kimochi wa hibi o kumoraseteta
Kimi ni deau sono hi made wa
Namae yonde sora ni hibiku you ni
Mayoi michi mo kitto futari nara
Arukidasu toki sekai ga mikata ni kawaru
Asa ga kuru bokura wa kaze o kanjite
Kimi no tame ni kimi no tonari ni iru kara
Hana no kisetsu mo zutto
Sono saki mo zutto
Issho ni itai to negau n da
Namae yonde boku ni todoku you ni
Hibiku koe wa kaze o okosu kara daijoubu
Namae yonde sora ni hibiku you ni
Mayoi michi mo kitto futari nara
Arukidasu toki sekai ga mikata ni kawaru
Asa ga kuru bokura wa kaze o kanjite
Tsunaida te to te hanasanai mamoritai n da
Saa ikou bokura wa ima o mitsumete
Aruki hajimeru
English:
Call my name so it reaches me.
The voice that echoes will change to the wind.
Reach out your hand, and let’s hold hands. It’ll make you smile.
Let us go. We’ll keep our eye on now.
And walk forward.
I was walking alone
At a fast pace
Not noticing the color of the sky.
I want to be loved. I want to be touched.
How I only waited for others to act made my world so foggy
Until the day I met you.
Call out my name so it echoes across the sky.
I’m sure the two of us will be fine even if we get lost.
When we start walking, the world will take side with us.
The morning comes. We catch the wind with our bodies…
I will be next to you for your sake
Through the season of flowers
And will forever on.
I will pray so we can be together.
Call my name so it reaches me.
The voice that echoes will change to wind, so don’t worry.
Call out my name so it echoes across the sky.
I’m sure the two of us will be fine even if we get lost.
When we start walking, the world will take side with us..
The morning comes. We catch the wind with our bodies…
I won’t let go of this hand I hold, I want to protect you.
Let us go. We’ll keep our eye on now.
And walk forward.
Spring Breeze (Part 4)
1 November 2009 at 20:05 | In Spring Breeze | Leave a CommentTags: doki-doki~, romance, school life
Aku terdiam gagu, tidak mampu berkata sepatah pun. Tenggorokanku tercekik, bernafas saja susah. Aku tidak mampu menatap sosok yang sekarang sedang menatapku bingung.
“Kau… salah satu muridku kan…?”
Aku tertegun. Kupikir dia akan membahas mengenai perilakuku. Tapi nampaknya tadi ia terdiam karena ia sedang berusaha mengingat siapa diriku sebenarnya!
“E… IYA!!!” jawabku salah tingkah. Lama-lama aku bisa mencair, nih, ditatapi lekat-lekat seperti itu dengan Shuji-sensei. “Na… namaku.. Kouda Natsumi!!”
“Oh, Kouda-san rupanya. Pantas rasanya Shuji-sensei pernah melihatmu.” katanya pelan sambil tersenyum simpul. “Kouda-san tidak apa-apa? Tadi ditabrak.. maafkan Shuji-sensei ya..”
“AH, TIDAK MASALAH!!!” jawabku setengah berteriak. “T… toh saya juga yang salah!!
“Oh…” Shuji-sensei terdiam untuk beberapa saat, lalu memamerkan senyum pangerannya.
“Baiklah. Lain kali hati-hati ya, Kouda-san.”
KYAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
***
“Jadi begitulah!!!!” ceritaku bersemangat pada Misa yang mendengarkan dengan seksama. “Aku tidak percaya Shuji-sensei bisa tersenyum padaku setelah kejadian memalukan tadi… aahhh!!!!!!”
“Hebat sekali, Natsu,” Misa tertawa kecil. Sekantong plastik besar berisi buku-buku yang tebal itu digenggamnya erat. “Nampaknya inilah titik balik kehidupanmu. Kau harus menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Shuji-sensei. Jangan biarkan apapun menghalangimu!” teriaknya menggebu-gebu. Anak yang satu ini kalau sudah bicara terdengar seperti seorang politikus. Tangannya mengepal di depan dada, menandakan kalau ia serius.
Aku terdiam sesaat. “Menjadi semakin dekat dengannya…?” Walaupun aku mau, tapi hal itu memang sangat sulit untuk dilakukan. Masalahnya, Shuji-sensei adalah seorang guru. Dan aku murid. Perbedaan derajat itu menghalangi kami berdua. Seolah-olah membentuk tembok baja yang mustahil dilubangi. Aku hanya bisa terdiam dalam kesunyian.
Misa, yang sedari tadi memandangiku, tersenyum kecil.
“Jangan khawatir, Natsu.” Dia menatapku yakin, berbicara seolah dia baru membaca pikiranku. “Cinta itu bisa melubangi apa saja, karena cinta adalah bor yang kuat. Percayalah padaku.”
Aku terpaku, mendengar kata-kata Misa semangatku tiba-tiba nyala kembali. Aku membalas tatapannya dengan lebih yakin lagi.
“Tentu saja!”
***
Hari Senin yang menyenangkan. Hatiku berbunga-bunga dan betapa aku bahagia hari ini. Betapa tidak, hari ini ada pelajaran olahraga! Pelajaran pertama pula. Aku senang sekali.
“Syala la la la~”
Aku bersenandung kecil sambil mengikat rambutku. Jarang-jarang aku mengikat rambutku begini. Tapi, apa boleh buatlah. Hari ini olahraga. Setidaknya, aku harus tampil sebaik mungkin. Yah, demi bertemu Shuji-sensei.
“Selesai!”
Aku buru-buru turun ke bawah, sarapan, pamit, menyambar tas sekolah lalu keluar rumah. Perasaanku terasa begitu ringan dan tenang hari ini. Tidak sabar pelajaran olahraga.. aku benar-benar tidak sabar. Perasaan ini memang aneh tapi beginilah kenyataannya.
Love is weird… It’s really hard to find it and when you grab it, you can’t let it go..
Sampai sekarang kata-kata itu masih menjadi bagian dalam kehidupan cintaku…
If I Could Hope..
31 Oktober 2009 at 20:31 | In Poem | Leave a CommentTags: heart, romance
Pertama kali aku melihatnya,
bertemu dengannya,
mengenalnya,..
Kupikir dia orang yang begitu menyebalkan
Ya, dia memang menyebalkan
Entah sudah berapa kata menyebalkan yang keluar dari mulutnya,
dan ditujukan untukku
Memuakkan
Aku begitu membencinya
Tapi itu awalnya…
Beberapa saat berlalu
Kami terus bersama dibawah naungan atap sekolah yang sama
Mengenal satu sama lain, bertambah akrab
Walau tetap tidak mengubah fakta kalau permusuhan kami tetap terukir abadi
Dan semenjak itulah, aku jadi tahu,…
Kalau dia sama sekali tidak seburuk itu…
***
Dia sebenarnya manis dan menyenangkan
Humoris, penuh dengan berbagai macam kata candaan
Walau kadang ia memang menyebalkan…
tapi aku tahu kalau kebaikannya tak berbanding dengan segala tindakannya itu..
Aku ini…
Dimana otakku?
Aku tidak bisa berpikir jernih
Aku bodoh dan tak berwawasan
Hanya bisa terus mengerut dibalik bayangan diri,
tidak berani menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya
Perasaan yang nyata
walau baru kurasakan sekarang
Bahwa aku sangat mencintainya…
***
Tak akan pernah kulupakan
Sosok anak itu..
Sosok yang menolongku,..
dan selalu membuatku merasa aman
Tak bisa kulupakan senyumnya..
yang membuat semua luka di hatiku memudar,..
pergi.. dan menghilang
Tak bisa kulupakan ekspresi wajahnya
saat ia memandangku
Tak bisa kulupakan segala tindak-tanduknya..
yang kadang membuatku benar-benar kesal
Sekarang semua itu sudah terpatri mutlak dalam hatiku…
***
Sekarang semuanya sudah berubah
Dunia sudah terbalik
Tidak ada lagi masa kanak-kanak yang ceria dan konyol
Kita berdua tentu tumbuh besar dan berubah..
menyadari kalau sifat konyol dulu hanyalah kenangan yang bahkan tak patut dikenang
Kadang aku suka ingin menangis,
dan merengek ingin kembali ke masa lalu
Yang cantik, ceria, dan indah
Masa dimana aku masih bisa bersamanya
Saat ini itu hanyalah urakan mimpi belaka
Dia yang sudah bertumbuh dewasa, melupakan segala hal yang berkaitan dengan masa lalunya,..
dan melangkah maju
Mengenal sosok lain,..
dan melupakan segala orang yang pernah mengisi hatinya
Walau itu tidak mungkin aku pernah menempati sejengkal pun tempat kosong di hatinya dulu…
Sosok yang telah ditemukannya itu…
indah seperti matahari senja
Memiliki kekuatan positif, anggun dan mempesona
Tentu ia tidak akan mengingat apapun yang mengganggunya untuk berduaan dengan mataharinya
Dia sekarang telah berada begitu jauh di sana
Terbang ke langit… menyusul matahari
Selagi aku masih terus berdiam di daratan, menunggunya kembali padaku..
Dan itu mustahil, aku tahu..
Kita semua berubah
Masa perubahan itu sama sekali tidak menyenangkan
Banyak manis pahitnya, dan kita harus melaluinya
Aku pun juga harus melupakannya..
yang telah mengisi ruang spesial dalam hatiku
“Walaupun itu berarti menghabiskan seluruh sisa hidupku untuk melakukannya..”
Spring Breeze
31 Oktober 2009 at 09:20 | In Poem | Leave a CommentTags: love, romance, sadness
Aku pertama kali bertemu dia pada musim semi
Dia mengunci pandanganku, mengalihkan pikiranku.
Membuatku tertegun
Orang yang membuatku begitu terpesona
Dia… begitu sempurna
Entah apa yang membuatku berpikir seperti itu
Kutatap matanya dalam-dalam..
..berharap bisa menemukan potongan hidupnya
dan mungkin rasa aneh ini juga bisa menghilang
Tapi yang ada perasaan ini semakin meluap-luap saja
Betapa aku mencintainya, sungguh
***
Cinta memang aneh…
Dia misterius, buta, konyol, dan memalukan
Sangat sulit didapat,..
.. namun saat kita mendapatkannya, kita tidak mungkin melepasnya
Rasa ini melekat di dasar hati terdalam…
***
Setiap hari aku selalu menanti…
saat kami bertemu..
Aku selalu menduga kapan aku bisa melihatnya lagi
Karena rasa rindu ini menyakitkanku
Tiap malam aku serasa ingin menangis,..
membayangkannya ada di sini bersamaku
Tapi aku tahu…
Itu.. tidak mungkin…
***
Sekarang dia tak ada di sini
Berangsur pudar saat matahari bersinar..
dan menghilang bersamaan dengan datangnya angin
Membawa titik-titik air mata dan sepotong hatiku pergi bersamanya
“Kenapa kau harus datang dan pergi di saat yang sama..?”
Sekarang perasaan ini hanyalah urakan belaka
Tidak tergambar dan tidak pernah berasal-usul
Rasa cinta yang meluap-luap ini..
telah terbakar habis menjadi abu sisa
Hatiku yang semula berwarna dan indah…
sekarang telah menjadi seonggok bulan yang tak tersinar
Karena dia, telah membawa pergi semuanya
Angin musim semiku, kekuatanku
Dia akan terus melayang bebas,..
berhembus dan menemaniku..
sampai akhir hayatku….
Spring Breeze (Part 3)
29 Oktober 2009 at 20:14 | In Spring Breeze | 2 CommentsTags: romance, school life
“Pagi yang indah…”
Entah sudah berapa hari sejak insiden buku Fisika. Aku sudah melupakannya, membuang jauh pikiran kalau guru itu baik. Aku sudah cukup bingung dan menderita, jangan sampai guru itu membuatku lebih menderita lagi…
Kubuka jendela kamarku lebar-lebar. Udara pagi yang sejuk menerpa helai rambutku, memainkannya di udara. Aku memejamkan mata, menikmati udara segar ini. Hari Minggu yang menyenangkan, namun ada juga kesalnya. Hari ini libur dan aku tidak bisa bertemu Shuji-sensei.
“Ahh… Sensei…..”
Pikiranku kembali melayang. Mengawang-awang. Tinggi dan tak terjangkau. Kupandangi langit biru sambil membayangkan wajahnya. Aku merona. Pandangan mataku meredup, aku menikmati keberadaannya dalam hatiku. Entah kenapa terasa hangat… walaupun jauh di mata dekat di hati. Inikah yang namanya jatuh cinta?
Aah, aku sudah merasakannya sejak hari itu. Masa Orientasi Siswa, tanggal 15 Juli.
***
Pertama kali aku melihatnya, aku tertegun. Pandanganku langsung terkunci, bibirku terkatup, dan bola mataku membesar. Saat perkenalan guru, dia datang ke depan, menebarkan senyum pangerannya dan tatapan mata hangatnya. Aku begitu terkesima sampai tidak bisa berkata apa-apa.
Dia… begitu sempurna. Itulah kesan pertamaku saat mataku menangkap sosoknya. Betapa bahagianya aku saat diumumkan kalau dia adalah guru olahraga SMA. Itu berarti aku bisa bertemu dan diajar olehnya.. karena aku ingin mengenalnya lebih dekat lagi..
***
“KRIIINNNNGGG~~~~”
“GUBRAK!!!!!”
Aku yang awalnya melayang-layang di langit, pergi ke masa lalu dan mengenang kali pertama kupandang matanya, langsung jatuh gedubrakan saat handphone merahku berdering nyaring. Huh, menyebalkan. Saat aku sedang terbang, benda ini memotong sayapku. Untung tidak terasa sakit.
“Yaaa???” jawabku malas.
“Natsu? Kau di sana?”
“Ha?” Aku baru menyadari satu hal. “Misa?”
“Yo. Kau ada waktu bebas hari ini?”
“Kenapa memang?”
“Temani aku ke toko buku.”
“Hooh.” Aku menghela nafas. “Oke. Jam berapa?”
———-
Kakiku pegal. Ingin duduk. Kepalaku sudah pusing dan mataku sakit mengikuti gerak anak satu ini. Erina Misa, teman sekaligus sepupu jauhku, memang paling gemar pergi ke toko buku. Dan kalau pergi mintanya ditemani olehku. Tapi aku capek. Menyebalkan sekali anak itu. Sudah memotong sayapku yang satu, lalu menginjaki sayapku yang lain sampai tidak bisa digunakan. Kalau begini lebih baik aku terus melamun, daripada mengikutinya yang berpindah-pindah tempat secepat hantu.
“Haaa….” kepalaku sekarang benar-benar pusing. Objek Misa yang berpindah-pindah sudah seperti siluet yang kabur, tak teraih. Aku seperti drop untuk beberapa saat…
“BRAAAK!”
“AH!”
… dan aku menabrak seseorang.
“Adudududuhh….” Aku meringis, sambil memegangi kepalaku. Linglung untuk beberapa saat. Sampai sebuah tangan terjulur, nampaknya hendak membantuku berdiri. Aku mengusapi kepalaku, mengamati tangan terjulur itu.
“Maaf.. Kau.. tidak apa-apa?”
Aku terkesiap mendengar suara itu. Suara yang familier. Suara yang lembut, rendah, dan dalam. Suara yang begitu kukenal. Suara yang selama ini selalu terngiang-ngiang dalam benakku.
“S…. SHU.. SHU..JI SEN…SEI?!!!” jeritku sambil mundur beberapa langkah.
Aku memekik keras, cukup keras untuk membuat pandangan semua orang mengarah kepadaku. Termasuk Misa, yang sedang menyeleksi komik yang akan dibelinya, langsung menoleh kepadaku.
Sekarang aku berada di pojok tersulit. Entah apa yang dipikirkan orang-orang yang melihatku. Entah apa yang dipikirkan Misa. Dan yang paling penting… Shuji-sensei mungkin menganggapku aneh atau semacamnya. Masa, mau dibantu berdiri malah teriak-teriak? Mundur? Bertindak kaget yang berlebihan?
Uh…
Tugas Bejibun…
27 Oktober 2009 at 16:57 | In Hidupku oh Hidupku | Leave a CommentTags: capek, seteres mode
Hai minna… ketemu lagi dengan gue… kali ini kepala gue lagi puyeng benerr… gara2 tugas yang jumlahnya ga keitung.. beeeehhh… udah tugas Teknologi Pangan, ada presentasi Biologi lagi.. haduh….
Tugas Teknologi Pangan itu soal laporan praktikum bikin selai nanas minggu kemaren.. kita disuruh bikin laporan yang resmi. Mencakup kerangka teoritis dan daftar pustaka pula. Kerangka teoritisnya membahas mengenai nanas.. nyarinya cukup bingung juga, tadinya pengen ngambil yang lengkap tapi halamannya kebanyakan… takut repot tar…
Tugas Biologi, presentasi mengenai jaringan-jaringan mahkluk hidup. Gue ama kelompok gue milih presentasi tentang jaringan-jaringan tumbuhan yang melakukan proses fotosintesis… untungnya semua ada di buku jadi ga perlu nyari sana sini… tapi gue termasuk deadliner ye, presentasinya besok baru dikerjain… buset dah..
Coba tugas2 ini bisa gue lelang, pasti gue jual dengan harga tinggi tuh…
Sore jaa, mata naa…. =_=”
Spring Breeze New Chapter – Part 2
26 Oktober 2009 at 19:40 | In Basa Basi | Leave a CommentTags: gaje
Buah… jadi juga tuh cerita.. sebelumnya gue rada bingung juga mo ngelanjutin kea gimana.. tapi akhirnya gue mutusin buat ngebahas soal si “guru menyebalkan”… soalnya kalo langsung mencapai inti ceritanya (yaitu Shuji-sensei) kan kurang menarik, kesannya kayak terlalu cepet dan melompat terlalu jauh.. Sekarang gue bakal ngebahas mengenai Natsumi dan kehidupannya.. sebenernya dia tuh beneran ada di dunia nyata dan segala tindak-tanduknya emang kea gitu.. gue cuma nulis balik kisah hidupnya sebage sebuah fiction.. (tentu ada part tertentu yg gue rubah~ karena Spring Breeze kan dunia gue~).. Anyway, gue dapet inspirasi 90% dari si temen gue itu… 10%nya lagi dari dunia luar.. dan ngertilah, ada bagian2 cerita yg gue dramatisir.. jadi NGGAK 100% ASELI KEHIDUPAN TEMEN GUE… jadi kalo ada bagian yang memalukan jangan dalem hati ngeledekin dia yah.. kasian… padahal dia nggak minta jadi model gue.. Thanx buat temen gue, dah ngasih inspirasi segini banyak…
Jaa, mata naa~~ ^^”=
Spring Breeze (Part 2)
26 Oktober 2009 at 16:49 | In Spring Breeze | 2 CommentsTags: romance, school life
Aku terus menatapnya dengan bingung. Jantungku berdebar begitu kencang, membuatku sesak nafas dan ingin pingsan rasanya. Aku ingin menemuinya, tapi nampaknya aku harus berpikir panjang untuk itu. Pertama, MEMALUKAN SEKALI!!! Tiba-tiba menemuinya dan berbasa-basi?? NO WAY!!!!!! Kedua, kulirik guru menyebalkan yang berdiri di depan sini. Guru itu bicara sampai nampaknya rahangnya mau copot. Tapi kurasa tidak ada seorangpun yang bisa menikmati penjelasannya. Aku mendengus dan menatapi sosok wanita itu dengan pandangan membunuh.
Tentu saja, dia tidak akan membiarkanku keluar begitu saja. Apalagi dengan alasan konyol seperti ini.
Aku memukul kepalaku dengan kesal. Nampaknya aku harus sabar menunggu sampai istirahat. Tapi ternyata, menunda melihat surga dunia memang begitu menyulitkan.
Aku saking tidak sabarnya untuk istirahat, jadi gelisah dan bolak balik badan di bangkuku. Sesekali aku menatap jendela, harap-harap ia masih ada di sana (padahal tidak), membolak-balik lembar buku paket Fisika dan mencoret-coretnya, memainkan rambut ikalku, tidur-tiduran di meja, mengutuk si wanita di depan papan tulis, dan sesekali menulis-nulis puisi cinta yang (tentu) ditujukan kepada Shuji-sensei. Aku tertawa-tawa sendiri. Awalnya memang tidak ada yang memperhatikanku, tapi ternyata cekikikanku terlalu keras dan WANITA itu mendengarku.
“Kouda Natsumi!!” teriaknya, ditujukan ke arahku. Aku yang sedang senyum-senyum sendiri jadi terlonjak. Pensilku terlempar ke udara dan…
“Sedang apa kamu di sana, hah?”
“PLUK!!”
… mendarat di kepalaku.
“BWAHAHAHAHAA!!!!!!”
Tawa seisi kelas langsung meledak seperti granat yang sudah disetel. Pipiku spontan memerah malu, semerah udang rebus. Sementara guru menyebalkan itu berjalan ke arahku.
Spontan aku salah tingkah, langsung menutup buku Fisikaku.
Jangan sampai puisiku terlihat oleh wanita menyebalkan ini…
Tapi…
“SRET!”
“AAAAHHH!!!!” jeritku spontan sewaktu buku Fisikaku ada di tangan guru ini. GAWAT!!!!!!!!
“Apa ini??” Dia membuka lembaran buku dan sampai pada halaman dimana aku membatasinya dengan pensil. Halaman puisi cintaku. Aku ingin mati rasanya. Apalagi saat raut mukanya berubah dan seisi kelas mulai membludak.
“APA ISINYA SENSEI?????”
“BACAIN SENSEII~~”
“LIAAATTT!!!!!!!”
“AIHH…. APAAAN TUUHH???”
Huaduh. Tamatlah riwayatku.
“Hmm..” Guru menyebalkan ini nampaknya sudah menyadari ekspresiku yang sekacau ombak laut. Dan entah mengapa ia terlihat mengerti dengan keadaanku yang sudah terpojok.
“Sudah! Kita lanjutkan pelajaran!!” teriaknya sambil menutup buku Fisika milikku dan mengembalikannya padaku. Terdengar keluhan yang serentak dari seisi kelas.
Sementara itu aku tertegun. Aku tidak menyangka guru menyebalkan itu bisa bersikap baik dan menyelamatkanku. Apa ini kenyataan?
Spring Breeze (Part 1)
25 Oktober 2009 at 19:29 | In Spring Breeze | Leave a CommentTags: romance, school life
“Hoaaaahhhmmm……”
Air mata menitik dari mataku. Bukan karena aku sedih atau apalah, tapi aku sangat mengantuk. Wanita berwajah menyebalkan yang berdiri di depan papan tulis, berteriak-teriak sampai mulutnya berbusa itu sama sekali tidak kuhiraukan. Untuk duduk tegak saja sudah susah, apalagi menyimak teori-teori fisika yang dilontarkan guru paling menyebalkan itu? Aku yang duduk paling belakang, pojok sebelah kanan, terasa begitu tenteram dan damai menikmati angin sejuk yang berhembus, menerpa beberapa helai rambutku.
“Oh yeah baby, spring is comin’…”
Angin yang begitu sejuk. Cuaca tidak dingin maupun panas, tapi udara pertengahan antara musim dingin dan panas menciptakan cuaca lembut yang begitu menyenangkan. Hangat dan tenang… Kalau musim gugur lebih cenderung dingin, musim semi lebih cenderung hangat. Aku mensyukuri adanya musim cantik ini, setelah musim dingin yang udaranya sampai menghujam ke rusuk tulang…
Mataku mengerjap-ngerjap manja, tengah dibelai angin yang segar. Tiba-tiba pandanganku menangkap sebuah sosok. Sosok yang begitu sempurna. Aku yang tadinya keasyikan dan sudah mau tidur itu langsung melek dan berasa segar. Spontan aku membuka mata lebar-lebar dan mengangkat badanku dari atas meja.
“Astaga… itu ‘dia’!!!”
Pipiku langsung bersemu kemerahan sewaktu memperhatikan sosok itu lebih seksama. Ya ampun… dia memang begitu indah.. Memandangnya bagaikan memasuki surga dunia, menerima tatapan matanya yang lembut itu membuat tubuh serasa melayang ke langit ketujuh.. melihat senyumnya yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata itu serasa membuatku rela mati asalkan bisa melihatnya seumur hidup….
Dia adalah cintaku, orang yang begitu indah, bagaikan matahari yang bersinar di langitku.
Dan merupakan satu-satunya orang yang nampaknya mustahil untuk kuraih…
Guru olahragaku, Shuji-sensei…
***
Saat pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat itu. Saat penerimaan murid baru, saat Masa Orientasi Siswa. Pertama kali aku melihatnya, dia bagaikan hujan bintang terindah yang bisa dilihat seorang gadis. Inikah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Aku hidup dengan menyangkal konsep tersebut, karena kupikir cinta perlu proses. Tapi.. setelah aku melihatnya, aku baru menyadari kalau aku memang jatuh cinta. Perasaan yang aneh. Kenapa harus dengannya? Kenapa bukan orang lain saja?
Kenapa.. harus dengan dia?
***
Dadaku seperti dihujam ratusan jarum. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Setelah libur musim dingin yang panjang dia cuti pulang kampung karena kakaknya melangsungkan pesta pernikahan. Bayangkan, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Dan sekarang dia ada di depan mataku, walaupun tempatnya berada jauh dariku. Dia berada di gedung perpustakaan, entah apa yang dia lakukan. Dia tidak mengajar? Bagaimana kabarnya? Perkawinan kakaknya? Sehat tidak dia? Bagaimana pengalamannya? Puluhan pertanyaan berputar di otakku. Dan aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.. walaupun hati ini rasanya begitu malu..
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.